Merari Siregar lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wfat di Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941.
Merari Siregar pernah bersekolah di Kweek School ( sekolah guru ) dan sekolah guru Oosr en West di Gunung Sahari, Jakarta. Pada tahum 1923, ia bersekolah di sekolah swasta yang didirikan oleh vereeniging tot van Oost en West, yang pada masa itu merupakan organisasi yang aktif mempraktekkan polotik etis Belanda. Setelah lulus sekolah, ia bekerja sebagai guru bantu di Medan kemudian pindah ke Jakarta, yakni di RS CBZ (RS Mangunkusumo). Terakhir ia pindah di Kalianget, Madura, dan bekerja di Opium and Zouregie sampai akhir hayatnya.
Karya – karyanya diantaranya yaitu :
• Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet 1 Tahun 1920
• Binasa Karena Gadis Priangan (1931)
• Cerita Tentang Busuk dan Wanginya Kota Betawi (1924)
• Cinta dan Hawa Nafsu
I'm a Triple S cause i really like SS501^^ I'm a WooGyu Shipper too^^ Welcome to my blog chingudeul ^^
Kamis, 14 Oktober 2010
Biografi Mohammad Yamin
Mr. Prof. Mohammad Yamin, SH lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Agustus 1903. Meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun. Ia dimakamkan di Talawi, Sawahlunto. Ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia.
Mohammad Yamin memulai karir sebagai penulis pada decade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya pertamanya ditulis dalam bahasa melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920.
Pada tahun 1922, Yamin membuat puisi berjudul Tanah Air. Himpunan Yamin yang kedua, Tumpah Darahku muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dalam hal sejarah karena pada waktu itu, Yamin dan beberapa orang pejuang bangsa memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa muncul pada tahun yang sama. Antara akhir dekade 1920-an sampai tahun 1933.
Karya-karyanya :
• Tanah Air (1922)
• Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
• Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
• Sedjarah Peperangan Diponegoro (1945)
• Gadjah Mada (1948)
• Revolusi Amerika (1951)
• Kalau Dewi Tara Susah Berkata
Mohammad Yamin memulai karir sebagai penulis pada decade 1920-an semasa dunia sastra Indonesia mengalami perkembangan. Karya pertamanya ditulis dalam bahasa melayu dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada tahun 1920.
Pada tahun 1922, Yamin membuat puisi berjudul Tanah Air. Himpunan Yamin yang kedua, Tumpah Darahku muncul pada 28 Oktober 1928. Karya ini sangat penting dalam hal sejarah karena pada waktu itu, Yamin dan beberapa orang pejuang bangsa memutuskan untuk menghormati satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia yang tunggal. Dramanya Ken Arok dan Ken Dedes yang berdasarkan sejarah Jawa muncul pada tahun yang sama. Antara akhir dekade 1920-an sampai tahun 1933.
Karya-karyanya :
• Tanah Air (1922)
• Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
• Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
• Sedjarah Peperangan Diponegoro (1945)
• Gadjah Mada (1948)
• Revolusi Amerika (1951)
• Kalau Dewi Tara Susah Berkata
Biografi Adinegoro
Adinegoro lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 14 Agustus 1904. Meninggal di Jakarta, 8 Januari 1967 pada usia 62 tahun. Adinegoro adalah sastrawan dan wartawan kawakan. Ia berpendidikan STOVIA (1918-1925) dan pernah memperdalam pengetahuan tentang jurnalistik, geografi, kartografi, dan geopilitik di Jerman dan Belanda (1926-1930)
Nama asli Adinegoro adalah Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah. Adinegoro memiliki seorang istri bernama Alidas yang berasal dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat.
Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu ia ingin sekali menulis. Maka dari itu ia menggunakan adinegoro itu adalah Djamaluddin.
Adinegoro sempat mengenyam pendidikan di Berlin, Belanda selama empat tahun. Ia mendalami masalah jurnalistik. Pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.
Ia mulai karir menjadi wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926-1930), ia menyambi menjadi wartawan bebas pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).
Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada tahun 1931. Tetapi, ia tidak bertahan lama Di sana. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932-1942). Ia juga pernah memimpin Sumatera Shimbum selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950). Selanjutnya ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian berubah menjadi LKBN Antara).
Ia ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia juga pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam dewan rakyat) yang dibentuk Jepang (1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara.
Karya-karyanya yaitu :
• Darah Muda, Batavia Centrum : Balai Pustaka, 1931
• Asmara Jaya, Batavia Centrum : Balai Pustaka, 1932
• Melawat ke Barat, Jakarta : Balai Pustaka, 1950
• Buku Revolusi dan Kebudayaan (1954)
• Buku Ensiklopedia Umum dalam Bahasa Indonesia (1954)
• Buku Ilmu Karang Mengarang
Nama asli Adinegoro adalah Djamaluddin gelar Datuk Maradjo Sutan. Ia adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah. Adinegoro memiliki seorang istri bernama Alidas yang berasal dari Sulit Air, Solok, Sumatera Barat.
Adinegoro terpaksa memakai nama samaran karena ketika bersekolah di STOVIA ia tidak diperbolehkan menulis. Padahal, pada saat itu ia ingin sekali menulis. Maka dari itu ia menggunakan adinegoro itu adalah Djamaluddin.
Adinegoro sempat mengenyam pendidikan di Berlin, Belanda selama empat tahun. Ia mendalami masalah jurnalistik. Pengalaman belajar di Jerman itu sangat banyak menambah pengetahuan dan wawasannya, terutama di bidang jurnalistik. Adinegoro lebih dikenal sebagai wartawan daripada sastrawan.
Ia mulai karir menjadi wartawan di majalah Caya Hindia, sebagai pembantu tetap. Setiap minggu ia menulis artikel tentang masalah luar negeri di majalah tersebut. Ketika belajar di luar negeri (1926-1930), ia menyambi menjadi wartawan bebas pada surat kabar Pewarta Deli (Medan), Bintang Timur, dan Panji Pustaka (Batavia).
Setelah kembali ke tanah air, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada tahun 1931. Tetapi, ia tidak bertahan lama Di sana. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (1932-1942). Ia juga pernah memimpin Sumatera Shimbum selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948-1950). Selanjutnya ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Terakhir, ia bekerja di Kantor Berita Nasional (kemudian berubah menjadi LKBN Antara).
Ia ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia juga pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam dewan rakyat) yang dibentuk Jepang (1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara.
Karya-karyanya yaitu :
• Darah Muda, Batavia Centrum : Balai Pustaka, 1931
• Asmara Jaya, Batavia Centrum : Balai Pustaka, 1932
• Melawat ke Barat, Jakarta : Balai Pustaka, 1950
• Buku Revolusi dan Kebudayaan (1954)
• Buku Ensiklopedia Umum dalam Bahasa Indonesia (1954)
• Buku Ilmu Karang Mengarang
Langganan:
Postingan (Atom)